Ketekunan Perjalanan UMKM Makanan Ringan “Berkah”

Sejak pukul tujuh pagi, para pekerja di sebuah pabrik rumahan telah sibuk memproduksi berbagai jenis makanan ringan nan renyah. Bahan-bahan diolah, digoreng, lalu dikemas dalam bungkus plastik berlabel “Berkah”. Hasilnya adalah keripik tahu, pangsit, dan cheese stick yang siap dipasarkan mulai dari Temanggung, hingga luar kota seperti Klaten, Solo, Kudus, Semarang, dan Yogyakarta. 

 

Pabrik dengan merk dagang “Berkah” milik Bu Sumi, seorang warga Dusun Puspan, Kemloko, Kranggan, Temanggung, memproduksi makanan ringan setiap harinya. Sejak berdiri pada tahun 2009, usaha Bu Sumi telah berkembang cukup jauh. Dari pengerjaan manual dengan suami dan dua orang karyawan, kini ia telah memiliki mesin pengolahan serta sembilan orang karyawan—lima orang bertugas di pengolahan bahan, dua orang di penggorengan, dan dua orang pengemasan. 

 

Dalam satu hari, Pabrik “Berkah” dapat memproduksi pangsit atau cheese stick dengan dua kuintal tepung. Namun, keduanya tak bisa diproduksi di hari yang sama. “Nggak cukup waktunya kalau empat kuintal satu hari,” ujar Bu Sumi. Jumlah hasil produksi tersebut sudah berkembang jauh dari saat Pabrik Berkah berdiri, tetapi produksinya tetap terbatas. 

 

Hasil produksi akan dibungkus dalam plastik dengan ukuran sekitar 1-2 kg. Nantinya, hasil produksi akan dipasarkan melalui dua cara. Pertama, melalui pengepul yang mendistribusikannya di daerah Temanggung. Kedua, pengantaran mandiri ke grosir-grosir di luar kota Temanggung oleh Bu Sumi bersama suami. "Sekali mengirim 300 bal, 200 bal, 100 bal itu kalau grosir," ucap Bu Sumi. 

 

Penjualan Bu Sumi juga dipengaruhi oleh hari-hari perayaan. Misalnya, keripik tahu yang banyak terjual pada masa-masa hari raya idul fitri serta natal dan tahun baru. Pada waktu-waktu tersebut, angka penjualan keripik tahu dapat mencapai enam kuintal.

 

Perjalanan UMKM Bu Sumi tak langsung berjalan mulus. Untuk sampai pada titik ini, ia telah menghadapi berbagai macam rintangan selama kurang lebih 16 tahun. Pada mulanya, ia dan suami bersusah payah mencari grosir yang bersedia menerima produknya. “Susah-susah senang itu. Padahal sudah jauh-jauh, dari sini ke Kudus, sudah bensin, orangnya ga mau, pulang lagi. Gak sekali jadi to mas,” ujar Bu sumi. Upaya pencarian grosir dilakukan Bu Sumi dan suaminya selama kurang lebih 3 tahun.

 

Keteguhan Bu Sumi juga terlihat dari upayanya mencari resep yang pas untuk produk keripik tahu. Bu Sumi menghabiskan waktu 1 tahun untuk mencari resep keripik tahunya. “Di awal-awal kalau bikin ga mungkin langsung dijual, ga segampang itu,” ucap Bu Sumi. Berbagai komposisi dicoba olehnya, hingga mendapati resep yang pas. Upayanya membuahkan hasil, kini keripik tahunya renyah tak berminyak maupun meninggalkan rasa seret di tenggorokan seperti keripik tahu pada umumnya.

 


Tuliskan Komentar anda dari account Facebook
chat
chat
...
EKRAF: Konveksi Noniekz

Pelaku: Ibu Nonik
Produk: Konveksi
Alamat: Dusun Ploso, Desa Kemloko, Kecamatan Kranggan, Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah
Kontak:<...

Lihat